Hari
Minggu, sore, dan entah sejak kapan seperti setiap hari Minggu sebelumnya, aku
sedang membagi-bagikan jus jeruk—atau minuman-minuman lainnya di hari-hari
Minggu sebelumnya. Di sekitarku duduk dua orang temanku dan Budi. Kita sedang
di ruang serbaguna apartemenku. Ini yang berbeda: sebelum-sebelumnya tidak ada
Budi. Dan tentunya mereka tidak tahu Budi punya hubungan darah
denganku—harapku, setidaknya.
Kedua
temanku itu, Timo dan Edwin, juga gay. Saat itu aku bukan hanya sedang menuang
minum, aku juga sedang menghadapi sebuah situasi. Situasi yang kerap terjadi di
dunia gay: Timo yang berulang kali tersenyum menatapku (meski tahu Budi
pasanganku) dan Edwin dengan segala cerita cintanya yang heboh. Timo sejak dulu
tertarik denganku. Timo blasteran Indonesia dan Swedia, dan untuk ketampanan
dari satu sampai sepuluh aku nilai dia sembilan—kurang satu karena dia suka
kucel ngga mandi, ahem, dan teramat sangat banyak yang suka. Mungkin aku kurang
pe-de membayangkan berjalan berdua dengannya. Dan di sisi lain ada Edwin yang
menurutku kurang beruntung dalam percintaan. Aku rasa dia dijauhi karena sifat
suka pamernya—pamer pengalaman dengan A, dengan B, dan sebagainya—yang aku rasa
banyak dibuat-buat juga.
“Gue
baru kenal cowo nih. Orangnya nih bilang dia suka gue, cuma gue kek ngga ada
rasa deh—mukanya biasa-biasa aja. Apa gue pake buang aja ya? Bodinya ok banget
lho,” cerita Edwin.
“Oh,
kenapa ngga—” dan belum selesai aku berbicara, Edwin melanjutkan dengan, “Tapi
ribet nanti kalo dia ngajak pacaran, duh duh”.
...dan
sebagainya. Budi hanya terdiam, sesekali memaksakan diri tersenyum. Budi
sebelumnya tidak pernah bergaul di dunia ini, tidak punya teman gay—atau
kalaupun dia punya, selama ini dia sebagai pihak yang straight, dan mungkin
tidak terbiasa dengan pembicaraan seperti ini. Aku yang pertama bagi dia—pacar
pria pertamanya.
Jujur
saja aku sendiri bosan dengan bahan pembicaraan Edwin, bahan pembicaraan yang
umumnya dibicarakan oleh kebanyakan kaum sejenis. Hanya sisa Edwin, yang
bagaimanapun melelahkannya, adalah teman pertamaku di Jakarta.
Puas
bercerita tentang dirinya sendiri, Edwin terdiam sebentar sebelum membuatku
kaget dengan bertanya, “Kalian mirip kalau dilihat-lihat. Jangan-jangan
sepupu.” Timo pun segera membandingkan wajah kita berdua, menyilangkan
tangannya dan membuat raut wajah seakan curiga hal itu benar. Bukan, paman sama
keponakan, pikirku sambil mengerutkan dahi, berpura-pura seakan pertanyaan
Edwin ngga masuk akal.
Anehnya
mereka berdua, Timo dan Edwin, seakan tidak melihat aku tadi mengerutkan dahi,
mengacuhkan ekspresiku begitu saja. Mereka terlihat masih curiga. Kita berempat
terdiam canggung. “Okay, jangan mikir yang ngga-ngga. Edwin! Timo!”
“Bentar,
bentar,” potong Edwin. “Gue tiba-tiba keinget sesuatu. Budi... paman elu kan?”
Aku
merasa gagal sebagai tuan rumah menjamu tamu, gagal mengatasi situasi. Salah,
aku kaget bukan karena itu. Aku mulai panik dan berpikir dari mana saja Edwin
dapat menemukan informasi perihal aku dan Budi. Dan Edwin memberi tahu
jawabannya.
“Gue
dulu pernah lihat nama Budi di daftar family elu di FB,” jelas Edwin, sekarang
mengerutkan dahinya. “Gue yakin bener.”
Budi
yang sejak tadi menyibukkan diri membaca berita di ponselnya sekarang terfokus
pada pembicaraan. Tapi tidak lama. Selang beberapa saat di tengah-tengah
kediaman kita berempat, Budi bangun dari duduknya, berkata dan meninggalkan
kita bertiga masuk ke dalam kamar tidur. Tanpa basa-basi. Dan itu, entah Budi
sadar atau tidak, benar-benar secara tidak langsung mengiyakan Edwin.
Sepeninggalan
Budi, Edwin langsung meluncurkan segala macam pertanyaan dan pernyataan.
“Gile!” “Lu main sama paman elu?” “Anjrit!” “Ga salah lu?” “Ada buanyak cowo
lain, ada Timo—lu desperate apa?”
“Edwin!”
seruku. “Udah, cukup. Pulang sana. Lain kali aja baru gue ceritain.”
Edwin
bergegas berdiri dan mengambil tasnya. “Ogah juga gue dengernya,” katanya
sambil pergi meninggalkan kita. “Yuk Timo,” ajaknya.
“Gue
masih ada keperluan. Duluan aja, 'Win.” Dan Edwin pun pergi.
Ngga
kaget kalau dia merasa jijik, pikirku. Apa boleh buat, rahasia sudah bocor.
Yang aku khawatirkan sekarang hanya kalau-kalau Edwin memberitahukan hal ini ke
orang-orang lain. Dan keperluan apa yang Timo punya denganku.
Sekarang
hanya tinggal aku dan Timo di ruangan ini. Budi di kamar. Kita terdiam sejenak.
Tentunya aku masih bingung harus berkata apa, menjelaskan bagaimana pada Timo.
Timo
berdiri dan berjalan ke dekatku. Dia mengambil tangan kiriku dan menempatkannya
pada kemaluannya. Keras. Timo sedang ereksi. Dan sepertinya sangat besar dan
keras, membuat gundukan besar di balik celana jeansnya.
Hal
itu terjadi tepat saat Budi sedang membuka pintu, akan keluar dari kamar.
Melihat kita berdua, Budi kembali ke dalam kamar, menutup pintu. Aku bergegas
melepas tanganku dari Timo dan berdiri hendak menyusul Budi, tapi Timo
menghentikanku. “Tunggu,” katanya.
Dia
menggenggam tanganku lagi dan menarikku untuk duduk di sofa. Lalu kita berdua
duduk bersebelahan. Menghela nafas, dia berbicara, “Aku dulu pernah main sama
Joshua,—” kakak kandungnya, bukan gay, seingatku—“cuma sekali. Dan sejak itu
aku sering... replay kejadian itu lagi di kepalaku.”
Mendengarnya
aku kaget juga. Anehnya begitu, meski aku sendiri notabene sudah melakukan
lebih darinya. “Soal kamu sama Budi bikin aku horny. Kamu tau dari dulu aku
suka kamu,” kata Timo. Menelan ludah, Timo melepas kausnya dan bertanya, “Kamu
mau ngga kita main bertiga?”
Aku
ikut menelan ludah. Karena pertanyaannya, karena tubuhnya yang hanya beberapa
senti di depanku, karena aroma lelakinya yang tajam.
Tidak
menunggu jawabanku, Timo lalu berdiri dan berjalan ke arah kamar tidur. Dia
membuka pintu dan masuk tanpa menutupnya lagi. Aku menoleh ke arah celah pintu
dan melihatnya berjalan mendekati Budi. Jantungku berdetak cepat, dan antara
ingin menghentikan Timo dan—entahlah.
Aku
tidak dapat melihat ekspresi Budi sewaktu Timo masuk dan berjalan mendekatinya.
Sosok Timo terlihat tinggi dan maskulin. Badannya tidak kurus tapi juga tidak
gemuk, juga tidak berotot kecuali di lengan dan bahu karena hobi renangnya.
Berdiri di depan Budi yang sedang duduk di pinggir ranjang, dia meletakkan
kedua tangannya di pundak Budi. Lalu Timo menundukkan badannya dan mencium
Budi. Seketika itu juga Budi melihat ke arahku, dan aku hanya membalas
pandangannya tanpa bergerak.
Budi
lalu merangkulkan kedua tangannya pada Timo dan menariknya ke ranjang. Keduanya
lanjut berciuman, Timo melumatkan bibirnya dengan ganas pada bibir Budi. Timo
menarik lepas kaus Budi dan kembali menciumnya. Lalu tangannya yang besar turun
menarik celana Budi sambil bibirnya sekarang melumat puting Budi.
Tanpa
kusadari kontolku sudah sepenuhnya ereksi, terasa sangat sesak di dalam
celanaku. Aku berdiri dan berjalan ke arah keduanya, sambil kulepas juga
kausku. Saat itu Timo menempatkan wajahnya di depan kontol Budi, tangan
kanannya menggenggamnya. Dijilatnya ujung kontol itu, lalu dilumatnya. Tak lama
kemudian kontol Budi sepenuhnya tegang juga. Hisapannya membuat Budi mendesah.
Aku
melepas celana, menaiki ranjang, dan berdiri sedikit menekukkan kakiku. Lalu
dengan tangan kananku kuarahkan kepala Budi mendekati kontolku. Budi membuka
mulutnya lebar-lebar dan menerima kontolku masuk ke dalamnya. Kepalanya
perlahan bergerak maju mundur mengulum kontolku. Di belakangku Timo masih terus
menghisapi kontol Budi.
Selang
beberapa saat kemudian Timo melepas kontol Budi dan beranjak berlutut di depan
kontolku. Seakan memberi bantuan pada Budi, Timo menggantikannya menghisap
kontolku. Lalu Timo menggenggam kontolku, menjilatinya. Budi pun juga ikut
menjilati kontolku. Dua lidah, dua pasang bibir memainkan kontolku, memberiku
sensasi yang luar biasa. Sesekali mereka berciuman lalu bergantian menghisap
kontolku.
Timo
lalu menarikku ke tengah ranjang, membaringkanku di sana. Kedua tangannya
mengarahkan kepalaku, dan dia menciumku—menciumku untuk pertama kalinya. Selagi
kita berciuman tanpa kusadari Budi sudah mengambil pelumas dari dalam laci dan
membawanya kemari. Lalu dioleskannya pada kontolku.
Setelah
sesaat jari-jarinya memainkan lubangnya sendiri selagi aku dan Timo berciuman,
Budi beranjak jongkok di atas pinggulku. Lalu diarahkannya kontolku masuk ke
dalam lubang yang masih sangat rapat itu. Budi mengerang menahan sakit,
otot-ototnya yang besar terlihat tegang. Saat kepala kontolku sudah masuk, Budi
berhenti bergerak dan menghela nafas beberapa kali. Timo saat itu sedang
melihat Budi, seakan terkesima.
“Ini
pertama kali aku ngelihat orang main beneran—bukan cuma di bokep,” katanya
polos.
Aku
dan Budi tidak menghiraukannya. Aku sedang menikmati kontolku yang separuhnya
di dalam lubang Budi. Sesaat kemudian Budi bergerak menurunkan badannya lebih
jauh, perlahan sampai seluruh kontolku berada di dalamnya. Budi lalu perlahan
bergerak naik turun, dan aku merasakan setiap kali Budi naik dan turun dia
melewati lebih dari sepuluh senti bagian dari kontolku. Aku mengerang, mendesah
karena nikmat luar biasa itu.
Timo
lalu menghisapi kedua putingku bergantian, sesekali menjilati lipatan antara
lengan dan ketiakku dan mendorong lidahnya masuk. Merasakannya, aku membuka
lenganku, mengundangnya untuk menikmati ketiakku. Tangan kirinya mengocok
kontolnya sendiri, dan lidahnya menjilati ketiakku dengan ganas.
Stamina
Budi cukup besar, dan cukup lama dia menunggangiku. Dia tidak terlihat lelah
sedikitpun, kontolnya masih tegak di antara kedua pahanya. Timo memberinya
sinyal untuk bergantian. Budi berhenti dan menghampiri Timo. Tapi Timo berdiri
meninggalkan Budi. Aku pun berpikir Timo ingin menjantani Budi, tapi rupanya
bukan itu yang ada di pikiran Timo. Timo menggantikan Budi. Dia berlutut di antara
tubuhku, dan dia arahkan lubangnya turun menyelubungi kontolku.
Lubang
Timo tidak serapat lubang Budi. Dia tidak terlihat merasa sakit—tersenyum
bahkan. Dan dengan lebih cepat Timo terlihat merasa nyaman dengan keberadaan
seluruh kontolku di dalam lubangnya. Meski begitu kenikmatan yang kurasakan
sama sekali tidak berkurang. Timo bergerak naik turun dengan cepat sambil
mengerang cukup kencang. Sosoknya yang maskulin, gerakannya yang penuh tenaga,
dan kontolnya yang luar biasa panjang dan besar—aku selama ini berpikir dia
pasti posisinya top, dan sekarang pun masih sulit mempercayai apa yang sedang
dilakukannya. Tidak seperti kontolku dan kontol Budi yang panjangnya tergolong
normal, kontol Timo panjangnya lebih dari 18 senti. Mungkin aku akan berpikir dua
kali kalau-kalau Timo memutuskan untuk bergantian memasukkan kontolnya ke dalam
lubangku.
Aku
menggenggam kedua lututnya, bangun, dan bergegas menggagahinya. Cukup sudah aku
ditunggangi, pikirku, sekarang giliranku yang beraksi. Aku menjantani Timo dengan
penuh nafsu, kontolku sekarang maju-mundur, keluar-masuk lubang Timo yang
berbulu lebat. Timo cukup berbulu lebat, di dada, perut, paha, lengan, dan
kemaluan. Dan Timo sepertinya kurang menjaga penampilan—selain sering
berpakaian seadanya, bulu kemaluannya juga sangat lebat dan mencuat panjang.
Biasanya mungkin aku akan kurang suka, tapi Timo tetap seksi di mataku.
Budi
berbaring di samping Timo, tangan kirinya memainkan kontol Timo dan tangan
kanan Timo memainkan kontolnya. Aku melepaskan Timo dan berganti kembali ke
Budi. Kutarik, kubuka lebar-lebar kedua paha Budi dan kujantaninya dengan
ganas. Selang beberapa menit kemudian aku kembali menjantani Timo. Tak lama
kemudian kontol Timo memuncratkan sperma berulang kali, menghujani dada dan
perutnya selagi kontolku masih terus memakai lubangnya. Seusainya, aku kembali
lagi ke Budi, melanjutkan aksiku. Dan tak lama kemudian Budi pun ikut
memuncratkan spermanya, tapi tidak sebanyak volume sperma Timo.
Aku
tidak melepaskan lubang Budi meski dia telah selesai ejakulasi. Aku mempercepat
gerakanku dan tak lama kemudian aku pun ikut ejakulasi, menyemburkan spermaku
ke dalam lubang Budi. Seusainya, aku mencium Budi dan perlahan menarik lepas
kontolku. Tentunya dada dan perutku ikut basah terkena peju Budi. Dan kemudian
aku berganti mencium Timo.
“Thanks,”
kata Timo pelan. Aku beranjak mengambil handuk. Sekembalinya, aku menyeka tubuh
Budi, lalu Timo. Terlihat Timo sudah terlelap, begitu saja dalam keadaan
telanjang bulat. Melihatnya, aku lalu melihat ke arah Budi, lalu kita sama-sama
tersenyum. Budi menciumku, lalu mengajakku untuk mandi.
Tengah
malamnya baru Timo terbangun. Aku dan Budi saat itu sedang duduk di sofa
menonton acara di televisi. Timo berjalan keluar dari kamar, badannya tinggi,
kontolnya yang lemas bergelantungan. Aku dan Budi tertawa melihatnya. “Timo
udah berapa hari ngga mandi?” tanyaku.
“Sehari...
okay, dua hari...”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar